You are currently browsing the daily archive for August 14th, 2008.
Sekarang mbalik lagi ceritanya
. Setelah acara resepsi pada hari Sabtu, besok sorenya kita langsung cabut ke Lembang yang jaraknya mungkin hanya sekitar 30km dari rumah. Nyampe di Lembang sudah petang dan kita langsung mencari-cari tempat penginapan. Setelah mengecek beberapa hotel dan vila, akhirnya pilihan jatuh ke Hotel Panorama Lembang. Karena memang weekdays, rate hotel pun bisa di’goyang’
. Dan pilihan kita akhirya memilih sebuah unit Rumah Kajoe, alias rumah kayu, karena memang semua bangunan dan aksesoris rumah dominan terbuat dari kayu. Bahkan sebagian kunci didalam rumah pun memanfaatkan balok kayu sebagai pengunci.

Dan disinilah mulai munculnya ‘cobaan’ berupa sakit diare akut yang akhirnya berkepanjangan. Tidak tahu pasti sebab dan asal muasalnya, entah hanya memang karena kecape’an, atau karena makanan. Yang jelas malam harinya setelah melahap sate kelinci dan jalan-jalan dengan motor mio di tengah dinginnya Lembang, mungkin semakin menambah bergeloranya isi perut
.
Keesokan harinya, sebelum kita memulai jalan ke Tangkuban Perahu, meski dengan kondisi perut yang ga menentu, kita memutuskan untuk bakal tetep stay untuk semalam lagi. Akhirnya pilihan jatuh ke Hotel Bambu di kota Lembang. Kita memilih kamar yang ada view di depan kolam renang.

Sejak siang perut rasanya sudah ok, jadi sepulang dari TB dan menuju Hotel Bambu, malemnya meluncur lagi untuk mencari makan. Karena dingin akhirnya pilihan menu jatuh ke capcay yang ternyata full saos sehingga kuahnya berwarna merah. Ternyata anggapan sembuh itu salah, sepulangnya diare kambuh lagi. Malam hari itu diputuskan bahwa paginya akan pulang dan malemnya akan langsung menuju Kota Solo Berseri dengan naik Kereta Api.
Mbahas resepsi nikah aja mungkin udah kelamaan, ini malah mo bicara mahar..
Gapapa deh.. kan blog-blognya sendiri; ;-p . Ada temen yang bilang, kalo ngasih mahar jangan Al-Quran, “abot sanggane” alias beban berat timpalnya. Karena berarti sang lelaki harus bisa mengajarkan serta benar-benar berpegang teguh pada Al-Quran dalam membina rumah tangga. Dan jawaban saya pun “why not..?” Justru menjadi tantangan buat kepala keluarga untuk bisa mewujudkannya.

Namun yang menjadi pilihan saya memang bukan Al-Quran, tapi Al-Hadist, yaitu hadist Sohih Muslim dan Sunan Nasa’i beserta seperangkat perhiasan dan alat sholat. Semoga perjelanan kedepan kehidupan kami senantiasa bersandarkan hukum Al-Qur’an dan Al-Hadist. Amiin..







Recent Comments